Tampilkan postingan dengan label SEPUTAR RUMAH TANGGA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SEPUTAR RUMAH TANGGA. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 15 Juni 2013

TIPS MEMILIH SEKOLAH TK UNTUK BUAH HATI

Waktu berlalu begitu cepat. Buah hati yang dahulu Anda kandung selama sembilan bulan sepuluh hari kini telah berubah menjadi anak manis yang siap untuk berbaur dengan teman-teman di sekolah. Memasuki usia sekolah, Taman kanak-Kanak sebuah “taman” yang berisi guru dan teman sebaya yang bersinergi untuk bergembira bersama dan meraih ilmu.
Ada banyak pilihan dari Sekolah Taman Kanak-Kanak yang bisa Anda jadikan pilihan. Karena nyaris semua Taman Kanak-Kanak dikelola oleh pihak swasta maka mereka memiliki misi, visi dan cara yang berbeda-beda. Penekanan dan kualitas serta fasilitas yang berbeda. Semoga tips ini membantu Anda untuk memilih Taman Kanak-Kanak yang ideal.

1. Tentukan tujuan Anda menyekolahkan anak
Ada banyak tujuan untuk menyekolahkan anak. Dalam hal ini berkaitan dengan anak ingin PINTAR di bidang apa? Ada sebagian orang tua yang mengejar kecerdasan akademik seperti lancar membaca menulis sedini mungkin. Ada pula orang tua yang masih membebaskan anak untuk menikmati masa kanak-kanak dengan bermain sepuasnya dan meletakkan kecakapan akademis sebagai prioritas yang dibawah. Namun banyak pula yang menginginkan keseimbangan antara keduanya.
Menguatkan landasan agama di Taman Kanak-Kanak pun menjadi salah satu tujuan orang tua. Untuk itu renungkan baik-baik tujuan anak Anda sekolah lalu pilihlah beberapa sekolah yang bisa merealisasikan tujuan tersebut.

2.       Sesuaikan budget
Sekolah yang full fasilitas biasanya berbanding lurus dengan biaya. Apalagi bagi sekolah yang memiliki branding tinggi. Ada sedikit nilai gengsi disana. Jika memang budget mencukupi dan tidak dipaksakan, tidak mengapa bersekolah di tempat ber-budget tinggi namun jika tidak, jangan memaksakan diri. Kualitas sekolah tidak selalu ditentukan oleh tingginya biaya sekolah dan fasilitas yang digunakan.
Masih banyak sekolah dengan biaya yang merakyat namun berkualitas. Hal ini tergantung kreativitas dari para pengajar dan keahlian mengajar mereka.

3.       Lokasi strategis dan terjangkau
Lokasi yang terlampau jauh akan membuat anak kelelahan di jalan. Apalagi bagi usia Taman Kanak-Kanak. Sebaiknya lokasi tidak terlampau jauh agar anak-anak lebih fresh dalam belajar. Disamping itu lebih hemat biaya tentunya.

4.       Pelajari kurikulum yang ditawarkan
Setiap Taman Kanak-Kanak memiliki kurikulum yang khas. Ada kurikulum dasar yang sama untuk semua Taman Kanak-Kanak namun selalu ada hal yang ditekankan yang membedakan satu Taman Kanak-Kanak satu dengan yang lain.
Ada yang menonjolkan aktivitas fisik dan memuaskan keingin tahuan anak, ada yang sangat protektif dan tidak memberi porsi cukup untuk anak beraktivitas fisik. Pelajari baik-baik dan renungkan sebelum mengambil keputusan.

5.       Karakteristik pengajar
Karakteristik pengajar (guru) sebaiknya Anda ketahui terlebih dahulu. Beberapa kunjungan dan mengintip ke kelas yang sedang berjalan, akan membuat pemahaman Anda tentang bagaimana karakter para pengajar. Cukup interaktif, sabar, smart, mengayomikah?

6.       Fasilitas yang disediakan
Taman Kanak-Kanak adalah tempat bermain sambil belajar. Sehingga tentu saja memerlukan fasilitas yang menunjang. Hal ini perlu Anda amati dengan seksama. Tanyakan apakah ada peragaan science, aneka permainan yang edukatif, perpustakaan dan hal lain yang berkaitan dengan belajar mengajar.

7.       Safety
Safety atau keselamatan adalah hal yang perlu diperhatikan. Kamar mandi yang aman bagi anak, permainan yang terawat dengan apik, aman dari lalu lintas yang ramai, lingkungan yang aman dan nyaman. Jangan sampai anak bebas berkeliaran ke luar halaman sekolah ketika jam istirahat atau ada ayunan yang berkarat dan sewaktu-waktu ada kemungkinan patah. Akan sangat berbahaya bagi anak-anak.

Semoga tips sederhana ini bisa bermanfaat. Selamat memilih Sekolah taman Kanak-Kanak ^^.

(Oleh Ari Kurnia)


Rabu, 29 Mei 2013

MEMBIASAKAN ANAK MAKAN DI MEJA MAKAN


Sudah menjadi rahasia umum jika anak suka makan sembari menonton televisi. Nongkrong di depan televisi sambil menyangga piring yang penuh makanan, ngobrol dengan sesama anggota keluarga yang juga makan sambil menonton televisi. Dan meja makan yang tersedia pun berubah fungsi hanya menjadi tempat makanan.
Kebiasaan ini sebenarnya tidak datang dengan sendirinya, namun “dihadirkan”, “dikenalkan” dan “diijinkan” oleh mereka yang menjadi pemegang aturan rumah tertinggi, orang tua. Awalnya agar anak mau makan dan tidak banyak protes namun tanpa disadari, hal ini menjadi kebiasaan keluarga. Apalagi jika makanan pun ikut berceceran di lantai, sungguh pemandangan yang indah. Padahal acara makan bersama di meja makan adalah sebuah moment penting yang bisa menyatukan anggota keluarga, bercanda, diskusi ringan dan mengajarkan table manner kepada anggota keluarga.
Jika kebiasaan makan di sambil nonton televisi terlanjur terjadi, jangan pesimis untuk memperbaikinya, selalu ada jalan jika kita memiliki kemauan. Berikut ini tips untuk membiasakan keluarga makan di meja makan :
1.    Dandani meja makan Anda.
Meja makan yang menarik dan bersih akan mengundang anggota keluarga untuk menghampirinya. Pilihlah taplak meja berwarna ceria atau sesuai dengan selera Anda. Bisa juga menyesuaikan dengan selera anak-anak. Beberapa taplak dapat Anda siapkan untuk dipakai secara bergantian agar tidak jemu.
Lapisilah dengan plastik agar taplak tidak mudah kotor terkena tumpahan aneka makanan dan minuman.
2.    Sajikan menu yang sehat memikat
Adakalanya anggota keluarga enggan makan karena menu yang kurang tepat, penyajian yang monoton dan dengan piranti makan yang itu-itu aja. Menyediakan menu yang sehat dengan buah-buahan yang terhidang siap santap (misalnya semangka yang telah dipotong dan disediakan garpu) akan membuat penampilan memikat.
Begitu pula jika piranti yang digunakan menarik walau tidak harus mahal dan ditata ala hidangan restaurant. Pasti akan memberi suasana baru dan menimbulkan keinginan untuk mencoleknya.
3.    Pilihlah topik seru
Menghabiskan menu yang tersedia memang akan lebih baik jika diam tak bersuara. Namun berbincang ringan tidak menjadi masalah rasanya. Karena suasana berkumpul dengan keluarga sangat sayang jika tidak dimanfaatkan untuk berdiskusi. Apalagi bagi masyarakat perkotaan yang sangat sibuk dan kesempatan berkumpul dan berkomunikasi telah menjadi sebuah kesempatan langka.
4.    Konsisten
Membiasakan makan di meja makan membutuhkan perjuangan yang tidak instan. Dilakukan secara konsisten dan sebagai orang tua, usahakan untuk tidak melanggarnya karena anak akan langsung meniru apa yang dilakukan oleh orang tua. Jika ada pengasuh yang permisif untuk membiarkan makan sambil menonton televisi lagi, jangan menjadi kendor. Tetap terapkan aturan tersebut.

Oleh : Ari Kurnia


Senin, 18 Maret 2013

KETIKA KERIKIL DATANG MENERPA


Pernahkah anda mengalami masa-masa dimana pernikahan anda dihempas kerikil-kerikil tajam, hujan badai, atau bahkan tornado? Lalu, langkah apa yang anda ambil sebagai solusi?
Masalah rumah tangga bukanlah suatu hal yang aneh bagi sepasang suami isteri. Bukan pula masalah yang datang lantas dijadikan sesuatu yang dinanti-nanti. Masalah terlihat besar atau kecil tergantung pada si penerima masalah itu sendiri dalam menyikapinya. 

Seorang ibu bisa saja merasa kecewa dan marah ketika si kecil memecahkan sebuah piring. Tapi ada pula yang malah merasa senang jika belasan piring dipecahkan oleh buah hati mereka. Mengapa? Pasalnya, mau tak mau mereka harus membeli lagi piring-piring itu. Dan itu berarti barang pecah belah mereka menjadi baru, dan merupakan kesempatan emas bagi si ibu untuk memilih koleksi terbaru. Lihat? Satu masalah yang sama, namun beda menyikapinya. 
Banyak ungkapan bahwa masalah adalah suatu bentuk menuju kedewasaan. Namun, apakah setiap seseorang menerima masalah maka ia lantas berubah menjadi dewasa? Dan apakah menuju kedewasaan itu harus selalu dilalui oleh polemik? 

Badai yang hadir dalam rumah tangga merupakan sebuah ujian atas cinta dan kasih sayang dari masing-masing pasangan. Bagaimana tidak, disana tiap-tiap mereka akan terlihat karakter masing-masing. Sabar, tentu menjadi kunci utama dalam hal ini. Lantas, apa yang harus dilakukan jika badai dilema itu hadir menyapa?


Tenangkan fikiran sesaat. Renungkan apa yang menjadi pemicu hadirnya masalah. Kemudian, bicarakan dari hati-hati secara terbuka dan transparan. Usahakan jangan melibatkan pihak ketiga. Jika ingin ada pihak ketiga sebagai mediasi dan jalan keluar, gantungkan pada Tuhan. Dengan begitu, masalah yang timbul hanya kalian yang tahu. Dan itu merupakan sebuah bentuk penjagaan citra diri/aib keluarga yang harus dijaga. 

Luangkan waktu sejenak untuk sama-sama beristirahat dari kepenatan. Jika ada si kecil, titipkanlah barang sejenak agar anda bisa menikmati masa-masa berdua dahulu. Seringnya waktu bermesraan dengan pasangan menjadi salah satu penguat hubungan rumah tangga. Apa salahnya jika sesekali anda melakukan honeymoon kembali atau melakukan masa-masa romantis berdua seperti menonton di bioskop, dinner di sebuah cafe romantis atau merasakan keindahan malam di puncak gunung dengan ditemani jagung bakar dan segelas minuman hangat. Hal itu sah-sah saja dilakukan. Setidaknya minimal sebulan sekali luangkan waktu berdua melakukan hal-hal romantis a la anda sendiri, apapun bentuknya. Biasanya, disaat-saat seperti itu, perasaan dan gejolak beban yang ada di fikiran anda dengan mudah tertuang untuk dilisankan. Jadikan momen ini sebagai ajang pembenahan hubungan kehidupan anda di kemudian hari.

Maka, ketika kerikil datang menerpa... tersenyumlah. Karena itu pertanda anda akan semakin romantis saja. 

Salam hangat. Mari tebarkan cinta dan kasih sayang pada sesama.

(Trance Taranokanai)

MENGATASI ANAK YANG TIDAK DOYAN MAKAN


"Anak tidak doyan makan, biarkan saja. Toh 'kalau' lapar dia akan makan"


Pernah dengar dongggg pernyataan seperti itu? Saya sampai terkesima dengan kata 'kalau'nya itu. Iya kalau si anak mau makan, nah kalau si anak membulatkan tekad tidak mau makan bagaimana? Bukankah pembiaran tersebut malah menambah masalah? Si anak yang masih bertahan dengan 'ego'nya benar-benar mogok makan dan akhirnya sakit..duhh saya hanya menggelus dada.

Sama halnya ketika anak tidak mau belajar. Apakah hanya dibiarkan, menunggu anak belajar sendiri? Tidak mungkin menumbuhkan minat belajar anak, tanpa memahami penyebabnya dan memberi stimulus atau rangsangan. Buatsaya, anak mogok makan berarti kerja ekstra keras untuk saya membuatkan aneka makanan. Walupun harus merogoh kocek lebih dalam jika si anak hanya mau makan di restoran favoritnya.


Jadi teringat saat Alif mogok makan hampir 2minggu lebih. Dari porsi makan normalnya,  semangkuk penuh jadi 3-5sendok makan saja, Itupun harus dipaksa, terkadang hanya menyeruput 5 sendok kuah sup buatan saya. Belum lagi diikuti drama melankolis yang penuh ratapan dan tangisan…hwaaa bikin stress pokoknya. Segala macam makanan saya khusus buatkan. Tetapi selalu ditolaknya, hanya susu yang mau ia minum.

Saya berusaha menelusuri penyebabnya. Banyak orang bilang ahh, memang ada masanya anak seusia Alif susah makan. Kalau pun anggapan itu benar, sebagai orang tua pastinya tidak akan membiarkanya berlarut larut. Harus mencari jalan supaya anak mau makan dengan porsi normalnya. Entah dengan pemberian vitamin penambah nafsu makan atau berkonsultasi langsung dengan ahli gizi. Saya pribadi memilih mengobservasinya, usut punya usut, ternyata penyebabnya karena kehadiran sang adik baru. Yaa saat usia 1.5tahun, adiknya lahir.

Saat itu Alif belum bisa mengutarakan perasaannya. Ada semacam kebingungan dalam dirinya yang tidak bisa diungkapkan. Tentang bagaimana penerimanan terhadap dirinya sendiri dan adik kecilnya. Mengapa semua perhatian keluarga lebih tertuju pada sang adik? Jadilah ia mogok makan. Belum lagi berbagai aksi “ajaib”nya yang kerap kali mengesalkan. Hari ini memecahkan setumpuk piring di atas meja makan, esok hari menggulingkan semua tanaman kesayangan oma. Terus berlanjut seperti itu.

Melihat perkembanganya seperti itu akhirnya saat sang adik berusia 6 bulan saya memilih untuk mengundurkan diri dari kantor. Memutuskan untuk mendampingi Alif menghadapi “kebingungannya”. Saya libatkan dirinya dalam mengasuh sang adik, mulai dari membuang popok ke tempat sampah, mengambilkan susu bahkan menjaganya sebentar dikala saya harus ke kamar mandi.

Perlahan selera makannya kembali, tepatnya setelah Alif saya masukkan ke sekolah saat berusia 2 tahun 2 bulan. Kegiatan sekolah yang menyenangkan, bertemu dengan teman teman dan guru membuatAlif lebih ceria dan lebih bisa mengendalikan perasaannya. Jarak tempuh sekolah yang agak jauh seakan menguras energinya yang berlimpah, disinilah selera makannya mulai timbul. Hal pertama yang saya lakukan adalah mengurangi asupan susu, cukup saat pagi dan beranjak tidur malam. Jadi ketika ia merasa lapar, ia akan makan bukan minumsusu. Awalnya ia hanya makan dengan nasi hangat plus garam atau teri nasi. Wahhh….jauh dari bergizi nie. Berbagai menu saya coba masak sendiri, kalau ia suka ayam K*C, di rumah saya berusaha membuatnya persis seperti itu. Urusan sayuran biasanya saya sembunyikan di dalam ayam atau perkedel.

Sekarang? Alhamdulillah pola makannya lebih baik, walaupun untuk makan sayur yang kasatmata, mamanya harus mendelik. Barulah ditelan, dengan didorong minum setiap saat..hahaha. Memang proporsi badannya tidak gendut eperti dulu lagi, tetapi saat ini Alhamdulillah Alif tumbuh sehat dan ceria.

Beberapa langkah yang bisa dilakukan saat anak mogok makan:
1.      Observasi pola makannya.
Sesuaikan waktu pemberian susu dan makanan ringan dengan waktu makan besarnya.
Jangan memberikan makanan ringan satu jam sebelum makan besarnya. Susu hanyalah pelengkap, memberikannya secara berlebihan akan memberikan efek mengenyangkan. Dan anak akan lebih menolak untuk makan. Berikan susu saats arapan pagi, selingan makanan ringan dan saat tidur malam.
2.      Pahami keadaan psikologis anak.
Pastikan bahwa anak tidak memendam masalah apapun.  Ajarkan anak untuk terbiasa mengungkapkan perasaanya.
3.      Amati kegiatannya sehari-hari.
Hal ini memudahkan orang tuau ntuk menentukan kecukupan asupan gizinya. Bisa berkonsultasi dengan ahli gizi atau pun membaca banyak literature tentang gizi.
4.      Jangan berhenti mengenalkan anekaragam jenis makanan pada anak.
Mengindari rasa bosan diperlukan menu makanan yang bervariasi. Tanyakan apa yang diinginkan sang anak untuk menu hari ini.
5.      Tumbuhkan rasa simpati dan empati pada anak sejak dini.
Ajak anak berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. Memperlihatkan bagaimana proses suatu makanan bisa terhidang di atas meja makan, seperti mengajaknya pergi ke pasar untuk membeli bahan makanan kesukaannya lalu memasaknya bersama.
Kunjungi tempat dimana anak bisa melihat bahwa masiha da orang-orang yang bersusah payah untuk makan.

Jadiii… Jangan cepat menyerahya Bunda bunda, disaat anak-anak mogok makan.. mungkin setelah kita memasak 5-6kali, pasti si anak tergugah selera makannya. Tidak heran kalau saya 'agakmelar' karena yaa mencoba mencicipi masakan sampai 5-6kali itu loh.  

(Hayu Hanggani)

Sabtu, 23 Februari 2013

PRAKATA SEPUTAR RUMAH TANGGA


Seorang gadis yang telah menikah dan akhirnya berubah statusnya menjadi istri berhak menyandang gelar ibu rumah tangga. Sebuah profesi yang membuat seorang wanita belajar banyak hal. Jika awalnya hanya fokus pada diri, kini harus memutar keuangan rumah tangga, menyiapkan masakan, mengelola rumah, menjaga hubungan yang harmonis dengan suami dan belajar menjadi seorang ibu yang baik bagi anak-anaknya.
Sebenarnya status ibu rumah tangga ini tetap melekat pada setiap wanita yang telah menikah walaupun dia berprofesi menajdi wanita karier. Hanya saja yang membedakan adalah full time sebagai ibu rumah tangga atau membagi waktunya dengan kariernya di luar rumah.
Begitu banyak hal yang tidak dipelajari di sekolah tentang kehidupan rumah tangga, sehingga orang kebanyakan akan kaget menghadapinya, mencari-cari teori dan mempraktekkannya. Bahkan tidak jarang akan bertengkar dengan pasangan hidup dalam memutuskan apa yang terbaik untuk rumah tangga yang dibinanya. So….  SEPUTAR RUMAH TANGGA dari blog Ibu-Ibu Doyan Bisnis ini akan mengupas tentang rumah tangga, dari sisi parenting, keuangan keluarga dan bumbu-bumbu yang ada di rumah tangga. Semoga menginspirasi dan menguatkan keluarga.

(Ari Kurnia)